Tampilkan postingan dengan label Sejarah Feminisme dan Kesetaraan Gender. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Feminisme dan Kesetaraan Gender. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 April 2012

Paham Feminisme dan Dampaknya terhadap Dekonstruksi Studi Islam

Oleh Kholili Hasib
Pendahuluan
Belakangan ini sedang diperdebatkan RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) di DPR-RI. RUU KKG ini disinyalir membawa paham feminisme.  Secara mendasar, RUU tersebut bertentangan dengan syari’ah Islam. Feminisme yang lahir dari peradaban Barat sekular menuntut peran perempuan sama (equal) dengan laki-laki di semua aspek kehidupan. Akibatnya, bukan keadilan yang ditampilkan, akan tetapi  penyimpangan terhadap fitrah wanita, merusak tatanan hukum Islam dan pembongkaran studi keislaman.

Senin, 16 April 2012

Mengapa Harus Kartini?

Oleh:
 Tiar Anwar Bachtiar

gambar : unblackmos.blogspot.com
Mengapa harus Kartini? Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?.

Sabtu, 14 April 2012

Liberalisme dan Feminisme

Oleh :
Tiar Anwar Bachtiar


Gerlombang liberalisme di Indonesia masuk berbagai pintu. Salah satu pintu yang boleh dikatakan sukses adalah pintu isu kesetaraan gender. Isu ini bahkan telah berhasil menembus kebijakan negara. Alhasil, gender mainstreaming menjadi salah satu program penting dalam semua lini program yang dicanangkan pemerintah. Selain itu, pemerintah juga meratifikasi MDGs (Milenium Development Goals) yang salah satu indikatornya adalah pengarus-utamaan gender. Targetnya sangat telanjang: menyamakan peran laki-laki dan perempuan. Artikel ini tidak akan membicangkan masalah ini. Yang akan menjadi fokus adalah asal-muasal dari mana gerakan ini muncul di negeri ini? Apakah tepat konteks sosial Indonesia?.

Rabu, 11 April 2012

Radikalisme Feminis Mazhab Chicago

  oleh:
Istilah mazhab Chicago mencuat saat saya mengikuti seminar Feminisme dan Kesetaraan Gender pada 22/12/2011 lalu. Istilah ini dilontarkan oleh seorang Doktor Sosiologi perempuan di perguruan tinggi Islam negeri di Jakarta ketika ia menjadi salah satu pembicara seminar. “Dulu saya ini memang bermazhab Syafi’i tapi sekarang saya bermazhab Chicago”, ungkapnya saat seminar.

Selasa, 10 April 2012

Benarkah Kesetaraan Gender Sebuah Solusi?

Oleh: Kholili Hasib*

DOKTRIN sentral yang dibawa oleh kaum feminisme adalah equality (persamaan). Elemen ini merupakan salah satu unsur worldview (pandangan alam) Barat postmodern. Doktrin equality tersebut yang saat ini sedang mewarnai Rancangan Undang-Undang Kesetaraan Gender (RUU KG) yang sedang digodok DPR-RI saat ini.

Pasal 1 ayat 2 RUU KG menyatakan perlu adanya kesamaan posisi, kondisi dan partisipasi pria-wanita dalam setiap aspek kehidupan. Doktrin equality semacam ini bukan keadilan, sebab dalam fitrah dan kodratnya pria dan wanita berbeda.

‘Tafsir’ Kebencian

Jika ditelusuri, equality dalam feminisme memang bukanlah doktrin yang mengusung keadilan yang sesungguhnya, tetapi sejak semula berdasarkan ideologi kebencian.
Asal-usulnya dari Barat, bukan dari tradisi Islam. Dipicu oleh pandangan buruk (misogynic) orang Barat terhadap wanita. Buku John Mary Ellmann, Thingking About Women, yang terbit pada tahun 1968 di New York mengungkap pelecehan-pelecehan orang Barat sejak zaman dahulu terhadap wanita. Gereja menuding perempuan sebagai makhluk pembawa sial dan malapetaka (Syamsuddin Arif, Menyikapi Feminisme dan Isu ender). Korban inkuisisi (lembaga yang mengeksekusi para pembangkang Gereja) ternyata banyak dari kalangan wanita. Sejak lama, Barat membenci wanita.

Kebencian ini lantas direspon secara ekstrim. Mary Wollstonecraft pada abad ke-17 disebut-sebut wanita Barat yang paling getol melawan misoginisme itu. Mary kemudian diikuti oleh yang lain seperti Helene Brion (Prancis), Clara Zetkin (Jerman), Anna Kuliscioff (Italia) dan lain-lain. Semua memiliki frame pemikiran sama; wanita harus bebas dari laki-laki, sebebas-bebasnya. Misalnya, kepuasan biologis tidak harus dari laki-laki tapi dari sesama perempuan (lesbianisme), mencemooh institusi pernikahan, dan tidak mau menyusui. Bahkan mantan capres AS, Pet Robertson, memprovokasi wanita agar meninggalkan suami, membunuh anak-anaknya, dan menjadi lesbian. Wanita Barat, yang sekian abad dilecehkan, mendapatkan angin baru.

Hanya, ‘angin baru’ yang mereka dapatkan bukanlah pencerahan tapi respon yang traumatik. Buktinya, yang terjadi dalam masyarakat Barat adalah semacam ideologi balas dendam terhadap lelaki yang telah lama membenci wanita. Lelaki adalah biang penistaan itu. Segala hal yang berbau kelaki-lakian dibenci. Ini artinya, paham feminisme atau kesetaraan gender dipicu oleh respon traumatik terhadap kondisi sosial, politik, dan budaya orang Barat terhadap wanita.

Jadi worldview feminisme adalah equality sedangkan ideologinya adalah benci kelaki-lakian. Di kalangan aktifis feminis Indonesia, lahir pemahaman ‘tafsir’ gender. Ayat poligami, konsep iddah,dan konsep waris didekonstruksi. Iddah memihak laki-laki, waris Islam merendahkan perempuan dan poligami merupakan bentuk kekerasan laki-laki pada perempuan. Ayat al-Qur’an dibongkar atas dasar rasa curiga berlebihan terhadap lelaki. Tokoh feminis Indonesia, Siti Musdah Muliah dalam buku Gender Dalam Perspektif Islam, termasuk terpengaruh ideologi kebencian itu.
Ia Mengusulkan perlunya penafsiran ulang ayat-ayat al-Qur’an karena penafsiran yang ada dituding sebagai konspirasi ulama’ – yang berjenis kelamin laki-laki – untuk menempatkan wanita sebagai pihak subordinat.

Ideologi kecurigaan tersebut akhirnya melewati batas-batas kodrat dan fitrah kemanusiaan. Lesbian dan homoseks dihalalkan asalkan dilakukan tanpa merusak kemanusiaan (Musdah Mulia, Islam Agama Rahmat Bagi Alam Semesta). Kepuasaan biologis kenapa harus dengan lelaki, jika dengan sesama perempuan bisa diperoleh? Apalagi lelaki itu cenderung merendahkan wanita. Begitu kira-kira logika kaum feminis, yang justru merusak kodrat manusia itu sendiri.

Frame pemikiran tersebut hanyalah adopsi pengalaman masyarakat Barat. Dalam tradisi Islam tidak dicumpai misogynic, budaya patrriarkhi dan lain-lain. Jadi, feminisme adalah paham yang dihasilkan dari pengalaman lokal, tapi dipasarkan secara global. Pengalaman manusia Barat belum tentu sama dengan pengalaman masyarakat yang bertradisi Islam.
Akibatnya, banyak timbul ketimpangan-ketimpangan. Masyarakat Muslim yang telah lama memulyakan wanita, menempatkan pria dan wanita secara proporsional sesuai kodrat, tiba-tiba dipaksa ikut-ikutan mencurigai pria.

Problem Keadilan

Kesetaraan yang diusung feminis bukan keadilan yang sesungguhnya. Problemnya, kesetaraan dalam hal apa saja. Tidak ada penjelasan. Jika disebut dalam RUU KG kesetaraan dalam semua aspek kehidupan, maka yang terjadi adalah ketimpangan dan kerusakan tatanan sosial. Mungkinkah olah raga sepak bola tidak memandang jenis kelamin? Laki-laki dan wanita bebas membentuk tim. Tidak mungkin juga olahraga tinju dan pencak silat tidak dibedakan laki-laki dan perempuan. Tenis dan bulu tangkis saja dibedakan regu pria dan wanita. Bahkan toilet pun dipisah. Kenapa dibedakan? Karena secara kodrat, fitrah, kekuatan badan dan biologis memang berbeda. Ini harus diakui.

Padahal keadilan itu tidak haru sama persis, sama-sama warna, sama berat, sama tempat dan sama wajah. Adil itu menempatkan sesuatu sesuai porsi, kodrat, dan potensi. Jika ada perbedaan disebabkan potensi itu, maka hal itu tidak dapat ditafsirkan sebagai perbedaan kedudukan dan derajat.

Laki-laki menjadi imam shalat bagi wanita, tidak dapat ditafsirkan bahwa imam itu pahalanya lebih besar daripada makmum yang wanita. Ini sekedar pembagian tugas berjamaah. Posisi laki-laki di depan dan jamaah wanita di belakang. Ini juga bukan pembedaan kedudukan di sisi Allah. Ini sekedar strategi managerial dalam mengatur kekhusyukan. Wanita itu, semua kalangan mengakui, jika ‘dipublish’ akan menarik perhatian pria.

Begitu pula kepemimpinan dalam rumah tangga. Kedudukan dan derajat suami sebagai pemimpin rumah tangga tidak dapat dinilai bahwa suami lebih tinggi derajatnya dibanding istri. Ini juga hanya pembagian tugas. Masing-masing memiliki tugas. Persoalan yang terjadi dalam pikiran kaum feminis adalah cara pandang.
Mereka mengira, derajat dan kedudukan itu semata-mata dikukur secara material dan empirik. Mereka menganggap jabatan pemimpin itu tanda kemulyaan. Seperti halnya mengira harta yang banyak itu membahagiakan, padahal belum tentu. Dalam Islam, jabatan kepempimpinan dan harta itu amanah, tugas dan perintah yang harus dijalankan dengan baik.

Dalam Islam, meski istri itu pihak yang dipimpin, bukan berarti ia rendah. Justru ia begitu dimulyakan. Imam Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Syarh ‘Uqudul Lujjanin, mengutip pernyataan Khalifah Umar bin Khattab, bahwa ternyata tugas memasak, mencuci pakaian itu tugas suami, bukan istri. Bahkan istri yang menyusui anaknya harus diberi ganti ongkos oleh suami. Ini semata-mata untuk memulyakan kedudukan wanita.

Jadi, kenapa harus menjadi feminis untuk mencari keadilan wanita jika dalam konsep Islam telah jelas diterangkan. Apalagi sampai merombak Syari’ah dan ayat-ayat al-Qur’an. Konsep equality bukan solusi, akan tetapi kita dapat menafsirkan itu sebagai proyek hegemonik penguasaan Barat terhadap dunia global, bukan semata-mata ikhlas mencarikan wanita keadilan dan kemulyaan.*

*Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya

sumber:  http://hidayatullah.com/read/21886/26/03/2012/benarkah-kesetaraan-gender-sebuah-solusi?-.html

Senin, 09 April 2012

Fe-minus

 Oleh:
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi


Istilah femina, feminisme, feminist, berasal dari bahasa Latin fei-minus. Fei artinya iman, minus artinya kurang. Jadi feminus artinya kurang iman. Wanita di Barat, sejarahnya, memang diperlakukan seperti manusia kurang iman. Wajah dunia Barat pun dianggap terlalu macho. Tapi lawan kata feminis, yakni masculine tidak lantas berarti penuh iman. Masculinus atau masculinity sering diartikan sebagai strength of sexuality. Maka dari itu dalam agama, wanita Barat itu korban inquisisi dan di masyakarat jadi korban perkosaan laki-laki. Tak pelak lagi agama dan laki-laki menjadi musuh wanita Barat.

Itulah worldview Barat asal feminisme lahir. Dan memang worldview, menurut  Al-Attas, Alparslan, Thomas Wall, Ninian Smart dll., adalah sumber aktivitas intelektual dan sosial. Buktinya worldview Barat liberal menghasilkan feminis liberal, Barat Marxis membuahkan feminis Marxis, Barat posmodern melahirkan feminisme posmo, dan seterusnya.

Seperti liberalisme, tuntutan feminis liberal adalah hak ekonomi dan kemudian hak politik. Dalam bukunya A Vindication of the Rights of Women, Mary Wollstonecraft menyimpulkan di abad ke 18, wanita mulai kerja luar rumah karena didorong oleh kapitalisme industri. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani (perut), tapi berkembang menjadi ambisi sosial. Taylor dalam Enfranchisement of Women (1851) malah memprovokasi agar perempuan memilih jadi ibu atau wanita karier.

Tapi berkarier bukan tanpa masalah. Para feminis itu ternyata berkarier di luar rumah, tapi di rumah ia mempekerjakan pembantu wanita. Taylor sendiri begitu. Bagi feminis liberal, berkarier apapun wanita harus dibela. Bahkan, menurut Rosemarie Putnam Tong dalam Feminist Thought-nya feminis liberal, terang-terangan membela “karier” wanita pelacur dan ibu yang mengkomersialkan rahimnya.

“Semua berhak melakukan semua dan harus dibela,” begitu kira-kira doktrin. Membela wanita berarti membela wanita yang melecehkan dirinya sekalipun. Memberdayakan wanita berarti membenci laki-laki. Aroma adagium barbar masih kental, “membela diri artinya menyakiti orang lain”. Biar wirang asal menang. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.

Karena kapitalisme dilawan sosialisme, maka feminis liberal dilawan juga oleh feminis Marxis. Idenya sudah tentu menolak kapitalisme. Sebab struktur politik, sosial, dan ekonomi kapitalis liberal, telah meletakkan wanita dalam kelas sosial yang lain. Kapitalis-liberal juga menciptakan sistim patriakis. Karena itu gagasan Feminis Marxis adalah menghapus kelas sosial ini.

Namun, nampaknya feminisme liberal atau Marxis masih dianggap kurang nendang. Mereka perlu lebih radikal lagi. Bahasanya bukan lagi reformasi, tapi revolusi. Fokusnya tidak lagi menuntut hak sipil, tapi memberontak sistim seks/gender yang opressif. Pembagian hak dan tanggung jawab seksual serta reproduksi wanita dan laki-laki, dianggap tidak adil. Bible pun tak luput dari kritikan. Kristen itu menindas perempuan, kata Stanton dalam The Women’s Bible.

Selain itu perempuan sering diposisikan sebagai alat pemuas lelaki. Inilah sebabnya feminis radikal lalu marah. “Tanpa lelaki wanita dapat hidup dan memenuhi kebutuhan seksnya,” begitulah kemarahan mereka. Lesbianisme pun dianggap keniscayaan. Padahal dalam The Vatican Declaration on Sexual Ethics tahun 1975 diputuskan bahwa perilaku lesbian dan homoseks “are intrinsically disordered and can in no case be approved of." Paus Benediktus XVI pada malam Tahun Baru 2006, mengutuk hubungan seks sejenis itu. Tapi apa arti agama jika iman tidak di dada. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.

Tapi Gayle Rubin, juru bicara feminis radikal libertarian, malah ngompori baiknya wanita jangan hanya puas menjadi lesbi, tapi juga memprotes segala aturan tentang hubungan seks. Institusi perkawinan pun jadi sasaran. Tapi beda dari libertarian, feminis kultural justru memprotes pornografi, prostitusi, dan heteroseksual. Tapi tidak berarti mereka setuju dengan UU pornografi dan “perda bernuansa syariah”. Sebab kedua aliran ini sepakat untuk menghapus institusi keluarga.

Feminis radikal sedikit banyak dapat angin dari gerakan feminis psikoanalisis dan gender. Pendekatannya bukan sosial, politik atau seksual, tapi psikologis biologis. Bahasanya lebih radikal dari feminis radikal. Gerakannya menggugat konstruks gender secara sosial dan biologis. Karena laki-laki dominan bukan karena faktor biologis, tapi sebab konstruk sosial. Maka konstruk sosial ini harus diubah. Kalau perlu laki-laki bisa hamil dan menyusui, dan wanita bisa menjadi pemimpin laki-laki.

Feminisme adalah gerakan nafsu amarah. Pemicunya adalah penindasan dan ketidakadilan. Obyeknya adalah laki-laki, konstruk sosial, politik dan ekonomi. Ketika diimpor ke negeri ini, ia berwajah gerakan pemberdayaan wanita. Bagus. Tapi nilai, prinsip, ide dan konsep gerakannya masih orisinal Barat. Buktinya nafsu amarah lesbianisme ikut diimpor dan dijual bagai keniscayaan, dibela dengan penuh kepercayaan, dan dijustifikasi dengan ayat-ayat keagamaan.

Bangunan konseptualnya berwajah liberal, radikal, Marxis dan terkadang posmo. Begitulah,  nafsu tidak memiliki batas dan marah tidak mengenal moralitas. Dan memang gerakan feminisme adalah feminus, alias kurang iman. 

Tulisan ini dimuat di www.hidayatullah.com dan www.insistnet.com

AKAR MASALAH KONSEP RUU KESETARAAN GENDER

oleh : Dinar Dewi Kania*

Dalam Naskah Akademik tentang Kesetaraan Gender (NA RUU KG) disebutkan bahwa Rancangan Undang Undang Kesetaraan Gender (RUU KG) perlu disusun karena adanya ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia dalam memperoleh manfaat yang sama dan adil dari hasil-hasil pembangunan antara laki-laki dan perempuan.

Minggu, 08 April 2012

Bahaya Kesetaraan Gender

Oleh: Dinar Dewi Kania*

And because radical feminism recommends putting women first, making them the primary concern, this approach is accord lesbianism “an honoured place’ as a form of ‘mutual recognition between women’ (Chris Beasley,1999)