Oleh:
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi
Istilah femina, feminisme, fe

minist, berasal dari bahasa Latin
fei-minus.
Fei artinya iman,
minus artinya kurang. Jadi
feminus
artinya kurang iman. Wanita di Barat, sejarahnya, memang diperlakukan
seperti manusia kurang iman. Wajah dunia Barat pun dianggap terlalu
macho. Tapi lawan kata feminis, yakni
masculine tidak lantas berarti penuh iman.
Masculinus atau
masculinity sering diartikan sebagai
strength of sexuality.
Maka dari itu dalam agama, wanita Barat itu korban inquisisi dan di
masyakarat jadi korban perkosaan laki-laki. Tak pelak lagi agama dan
laki-laki menjadi musuh wanita Barat.
Itulah
worldview Barat asal feminisme lahir. Dan memang
worldview, menurut Al-Attas, Alparslan, Thomas Wall, Ninian Smart dll., adalah sumber aktivitas intelektual dan sosial. Buktinya
worldview
Barat liberal menghasilkan feminis liberal, Barat Marxis membuahkan
feminis Marxis, Barat posmodern melahirkan feminisme posmo, dan
seterusnya.
Seperti liberalisme, tuntutan feminis liberal adalah hak ekonomi dan kemudian hak politik. Dalam bukunya
A Vindication of the Rights of Women,
Mary Wollstonecraft menyimpulkan di abad ke 18, wanita mulai kerja
luar rumah karena didorong oleh kapitalisme industri. Awalnya untuk
memenuhi kebutuhan jasmani (perut), tapi berkembang menjadi ambisi
sosial. Taylor dalam
Enfranchisement of Women (1851) malah
memprovokasi agar perempuan memilih jadi ibu atau wanita karier.
Tapi
berkarier bukan tanpa masalah. Para feminis itu ternyata berkarier di
luar rumah, tapi di rumah ia mempekerjakan pembantu wanita. Taylor
sendiri begitu. Bagi feminis liberal, berkarier apapun wanita harus
dibela. Bahkan, menurut Rosemarie Putnam Tong dalam
Feminist Thought-nya feminis liberal, terang-terangan membela “karier” wanita pelacur dan ibu yang mengkomersialkan rahimnya.
“Semua
berhak melakukan semua dan harus dibela,” begitu kira-kira doktrin.
Membela wanita berarti membela wanita yang melecehkan dirinya
sekalipun. Memberdayakan wanita berarti membenci laki-laki. Aroma
adagium barbar masih kental, “membela diri artinya menyakiti orang
lain”. Biar wirang asal menang. Begitulah, gerakan ini memang tanpa
iman.
Karena kapitalisme dilawan sosialisme, maka feminis
liberal dilawan juga oleh feminis Marxis. Idenya sudah tentu menolak
kapitalisme. Sebab struktur politik, sosial, dan ekonomi kapitalis
liberal, telah meletakkan wanita dalam kelas sosial yang lain.
Kapitalis-liberal juga menciptakan sistim patriakis. Karena itu gagasan
Feminis Marxis adalah menghapus kelas sosial ini.
Namun,
nampaknya feminisme liberal atau Marxis masih dianggap kurang nendang.
Mereka perlu lebih radikal lagi. Bahasanya bukan lagi reformasi, tapi
revolusi. Fokusnya tidak lagi menuntut hak sipil, tapi memberontak
sistim seks/gender yang opressif. Pembagian hak dan tanggung jawab
seksual serta reproduksi wanita dan laki-laki, dianggap tidak adil.
Bible pun tak luput dari kritikan. Kristen itu menindas perempuan, kata
Stanton dalam
The Women’s Bible.
Selain itu perempuan
sering diposisikan sebagai alat pemuas lelaki. Inilah sebabnya feminis
radikal lalu marah. “Tanpa lelaki wanita dapat hidup dan memenuhi
kebutuhan seksnya,” begitulah kemarahan mereka. Lesbianisme pun dianggap
keniscayaan. Padahal dalam
The Vatican Declaration on Sexual Ethics tahun 1975 diputuskan bahwa perilaku lesbian dan homoseks “
are intrinsically disordered and can in no case be approved of."
Paus Benediktus XVI pada malam Tahun Baru 2006, mengutuk hubungan seks
sejenis itu. Tapi apa arti agama jika iman tidak di dada. Begitulah,
gerakan ini memang tanpa iman.
Tapi Gayle Rubin, juru bicara
feminis radikal libertarian, malah ngompori baiknya wanita jangan hanya
puas menjadi lesbi, tapi juga memprotes segala aturan tentang hubungan
seks. Institusi perkawinan pun jadi sasaran. Tapi beda dari
libertarian, feminis kultural justru memprotes pornografi, prostitusi,
dan heteroseksual. Tapi tidak berarti mereka setuju dengan UU
pornografi dan “perda bernuansa syariah”. Sebab kedua aliran ini
sepakat untuk menghapus institusi keluarga.
Feminis radikal
sedikit banyak dapat angin dari gerakan feminis psikoanalisis dan
gender. Pendekatannya bukan sosial, politik atau seksual, tapi
psikologis biologis. Bahasanya lebih radikal dari feminis radikal.
Gerakannya menggugat konstruks gender secara sosial dan biologis.
Karena laki-laki dominan bukan karena faktor biologis, tapi sebab
konstruk sosial. Maka konstruk sosial ini harus diubah. Kalau perlu
laki-laki bisa hamil dan menyusui, dan wanita bisa menjadi pemimpin
laki-laki.
Feminisme adalah gerakan nafsu amarah. Pemicunya
adalah penindasan dan ketidakadilan. Obyeknya adalah laki-laki,
konstruk sosial, politik dan ekonomi. Ketika diimpor ke negeri ini, ia
berwajah gerakan pemberdayaan wanita. Bagus. Tapi nilai, prinsip, ide
dan konsep gerakannya masih orisinal Barat. Buktinya nafsu amarah
lesbianisme ikut diimpor dan dijual bagai keniscayaan, dibela dengan
penuh kepercayaan, dan dijustifikasi dengan ayat-ayat keagamaan.
Bangunan
konseptualnya berwajah liberal, radikal, Marxis dan terkadang posmo.
Begitulah, nafsu tidak memiliki batas dan marah tidak mengenal
moralitas. Dan memang gerakan feminisme adalah
feminus, alias kurang iman.
Tulisan ini dimuat di www.hidayatullah.com dan www.insistnet.com