Dr. Adian Husaini
Pada hari Sabtu, 9 Oktober 2010, bertempat di arena Indonesia Book Fair, Senayan Jakarta, saya meluncurkan novel berjudul “Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat” (Jakarta:
GIP, 2010). Novel ini saya tulis dengan tujuan memudahkan kaum Muslim
Indonesia untuk memahami pemikiran-pemikiran liberal dan bagaimana cara
mengatasinya. Hingga kini, penyebaran ide-ide liberal dilakukan melalui
berbagai cara, diantaranya melalui penulisan novel, sinetron, dan film.
“Novel
Kemi” ini sarat dengan pergulatan pemikiran tingkat tinggi dan
pergulatan jiwa dan pikiran para aktivis liberal. Novel ini berkisah
tentang dua orang santri cerdas yang berpisah jalan. Kemi (Ahmad
Sukaimi), santri pertama, terjebak dalam paham liberalisme. Ia
mengkhianati amanah Sang Kyai. Kemi salah pilih teman dan paham
keagamaan. Ujungnya, ia terjerat sindikat kriminal pembobol dana-dana
asing untuk proyek liberalisasi di Indonesia. Nasibnya berujung tragis.
Ia harus dirawat di sebuah Rumah Sakit Jiwa di Cilendek, Bogor.
Rahmat,
santri kedua, selain cerdas dan tampan, juga tangguh dalam
“menjinakkan” pikiran-pikiran liberal. Rahmat disiapkan khusus oleh Kyai
Aminudin Rois untuk membawa kembali Kemi ke pesantren. Meskipun misi
utamanya gagal, Rahmat berhasil “mengobrak-abrik” jaringan liberal yang
membelit Kemi. Sejumlah aktivis dan tokoh liberal berhasil ditaklukkan
dalam diskusi.
Di
dalam novel ini, ada cerita Prof. Malikan, rektor Institut Studi Lintas
Agama, tempat Rahmat dan Kemi kuliah, ditaklukkan Rahmat di ruang
kelas. Siti (Murtafiah), seorang aktivis kesetaraan gender, putri kyai
terkenal di Banten, terpesona oleh kesalehan, kecerdasan, dan ketampanan
Rahmat. Siti, akhirnya sadar dan bertobat, kembali ke orangtua dan
pesantrennya, setelah bertahun-tahun bergelimang dengan pikiran dan
aktivitas liberal. Rahmat juga berhasil menyadarkan “Kyai Dulpikir”,
seorang Kyai liberal terkenal di Jawa Barat. Sang Kyai sempat bertobat
dan wafat di ruang seminar.
Dalam
catatan ini, ada baiknya kita simak pengakuan Siti Murtafiah, setelah
dia tersadar dari kekeliruan paham liberal dan kesetaraan gender yang
selama ini dia peluk dan dia perjuangkan. Siti mengaku telah terjerat
berbagai pemikiran salah, secara perlahan-lahan. Ia sadar setelah
bertemu Rahmat. Ia kemudian menyesal dan berjanji akan bertobat. Siti
terpesona oleh sikap dan pemikiran Rahmat, seorang santri kampung yang
cerdas dan shalih.
Berikut ini petikan pengakuan Siti kepada Rahmat, akan kekeliruan pemikiran-pemikiran liberal yang digandrunginya selama ini:
”Coba
perhatikan, Rahmat. Saya juga baru menyadari belakangan ini. Saya sudah
terseret makin jauh. Dulu saya tertarik, karena selalu dikatakan, bahwa
kita mengembangkan sikap terbuka, kritis, rasional, tidak partisan.
Tapi, ketika sudah masuk ke lingkungan ini, kita tidak punya pilihan,
kita juga dididik sangat partisan. Jika dulu orang Muslim bangga
mengutip Imam Syafii, Imam Ghazali, dan sebagainya, maka sekarang yang
dibangga-banggakan adalah ilmuwan-ilmuwan orientalis. Katanya, kritis.
Bahkan, karya-karya para ulama itu diakal-akali agar sesuai dengan
pikiran mereka.
Yang
tanpa sadar, kita disuruh membenci sesama Muslim, pelan-pelan kami mau
tidak mau harus mengambil jarak dari aktivitas keislaman dan komunitas
Muslim. Coba kamu perhatikan, pernah nggak kamu lihat Kemi shalat
berjamaah ke masjid, aktif dalam majlis-majlis taklim, mengajar mengaji
anak-anak, shalat tahajut, puasa sunnah, dan sebagainya. Lihat, siapa
teman-teman dekatnya! Ingat nggak kata Ali bin Abi Thalib, siapa teman
kepercayaan kamu, itulah kamu.
Perhatikan
juga apa yang selalu diomongkan dia. Dia tidak lagi bicara tentang
aqidah Islam, bahwa iman itu penting, kesalehan itu penting. Tidak
bicara tentang bahaya kemusyrikan dan kemurtadan. Padahal, sejak kecil
di pesantren, dia sudah diajarkan kitab-kitab Tauhid yang membahas
masalah syirik. Bahkan, kata syirik, kafir, itu sudah dicoret dari
kosakata dia. Syirik dan iman dianggap sama saja. Mukmin dan tidak
mukmin dianggap sama. Islam dan bukan Islam disama-samakan. Padahal,
al-Quran jelas-jelas membedakan derajat orang mukmin dengan derajat
orang kafir.
Saya
kadang bertanya, mengapa saya menjadi begini. Bahkan, di kepala saya
yang ada bukan lagi bagaimana memahami al-Quran dengan baik dan benar,
tetapi bagaimana agar al-Quran bisa saya gunakan untuk mendukung
pemahaman saya tentang Pluralisme, liberalisme, toleransi, dan
sebagainya. Teman saya sampai berusaha keras untuk meraih gelar doktor
dengan membuat metodologi Tafsir yang sesuai dengan pemikiran
Pluralisme.
Semua
itu tidak terjadi seketika. Perlu waktu panjang. Sedikit demi sedikit,
pikiran dibelokkan. Tanpa sadar. Perasaan dan pikiran dibelokkan.
Saya suatu ketika bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa saya tidak
lagi mencintai saudara-saudara saya di Palestina? Bahkan, hati saya
mulai condong pada kaum Yahudi. Saya suka melihat kemenangan Yahudi;
yang saya lakukan adalah mencari-cari kelemahan orang Palestina dan
kelebihan orang Yahudi. Malah, saya sama sekali sudah tidak peduli
dengan masalah umat Islam di Kasmir, Moro, Afghanistan, Irak, dan
sebagainya. Saya menganggap semua itu adalah komoditas kaum
fundamentalis untuk mencari popularitas.
Yang
lebih saya kedepankan adalah isu-isu yang dibawa oleh negara-negara
Barat, seperti isu radikalisme Islam, pluralisme, fundamentalisme, dan
sebagainya. Padahal, berapa ratus ribu bahkan jutaan penduduk sipil di
negara-negara Muslim itu yang dibunuhi? Saya sudah menganggap bahwa
mereka itu semua berhak dibunuh, karena mereka bagian dari kaum
fundamentalis. Tidak ada diantara kami yang habis-habisan mengutuk
pembunuhan manusia-manusia Muslim itu. Hanya sesekali keluar pernyataan,
agar tidak terlalu dianggap antek Barat. Tapi, coba kalau ada satu saja
orang bule yang tewas dibunuh oleh satu kelompok Islam, atau ada bom
meledak di suatu tempat yang menewaskan puluhan orang, maka kami akan
habis-habisan mengutuk.
Yang lain, ini yang menyadarkan saya, tiba-tiba tertanam dalam diri saya, perasaan
benci pada syariat Islam, dan bahkan benci dengan kemenangan satu
partai Islam dalam Pemilu. Saya benci sekali kalau ada orang ngomong
syariat. Bahkan, saya pernah memberi masukan teman-teman Kristen agar
mereka mengeluarkan pernyataan yang menolak syariat. Saya
pernah bingung, kenapa saya bisa menjadi begini. Saya mengenakan
kerudung, tetapi isi kepala saya sama sekali tidak suka dengan kerudung.
Saya benci sekali kalau ada orang Islam atau organisasi Islam yang
mencoba membatasi pakaian.
Bahkan
saya pernah ikut merancang demonstrasi menentang RUU Pornoaksi dan
Pornografi. Saya benar-benar termakan paham kebebasan. Saya benci MUI,
yang menurut saya sok Islam sendiri. Saya mendukung Lia Eden, saya
mendukung Ahmadiyah, saya benci semua orang Islam. Bahkan, pernah saya
membenci ayah saya sendiri, karena saya melihat dia bersama para kyai di
daerah saya mendatangi DPR, meminta agar tayangan-tayangan porno dan
tidak senonoh dihentikan penayangannya. Saya benci itu semua.
Kamu tahu Rahmat, karena untuk
membuktikan saya sudah benar-benar menyatu dengan paham kebebasan, saya
mendukung hak wanita untuk menjadi pelacur. Saya menentang penutupan
komplek-komplek WTS di berbagai kota. Melacur saya anggap sebagai hak
asasi wanita. Menjadi gigolo juga hak asasi. Yang penting tidak
mengganggu hak orang lain. Hak-hak kaum homo dan lesbi juga saya
perjuangkan. Sebab saya sudah dicekoki paham kebebasan, bahwa mereka
adalah manusia.
Saya
tidak tahu, mengapa saya menjadi seperti ini. Semua pergaulan, kuliah,
diskusi, kegiatan, sepertinya sudah diatur sedemikian rupa, sampai saya
tidak sadar, bahwa saya telah menjadi korban dari sebuah skenario besar.
Saya korban. Kemi juga korban. Entah dia sadar atau tidak.
Bayangkan
Rahmat, saya ini wanita, perempuan. Sampai karena sudah begitu
merasuknya paham kesetaraan gender dalam diriku, saya tidak lagi
mengakui laki-laki berhak memimpin rumah tangga. Saya benci jika
dikasihani. Pernah saya naik bus, ada seorang laki-laki memberikan
tempat duduknya karena kasihan saya berdiri, saya bentak dia. Saya mau
suami saya yang nanti melayani saya, menyediakan minum buat saya,
mengasuh anak saya, dan kalau perlu membawakan tas saya. Entah kenapa di
kepala saya tertenam kebencian dan dendam kepada laki-laki, karena
mereka telah menindas kaum saya selama umur manusia.
Suatu
ketika, saya merenungkan semua itu dengan serius. Mengapa saya menjadi
begini? Mengapa jadi begini? Itulah pertanyaan saya beberapa bulan
terakhir ini. Saya sadar, tetapi saya tidak tahu, bagaimana saya akan
keluar dari jeratan ini. Sudah terlalu jauh... Saya sulit
keluar....Rahmat, entah bagaimana ujungnya perjalanan saya ini....”
”Saya
sedih .... hati saya sangat perih... ingat ayah saya, Ibu saya,
adik-adik saya...Saya dulu ingin membuktikan kepada mereka, bahwa saya
bisa mandiri, saya bisa bebas, saya mau merdeka, saya tidak mau diatur
lagi dengan berbagai belenggu. Saya minggat dari rumah, kuliah di satu
kampus Islam Jakarta, lalu terakhir terseret ke kampus ini, karena ada
beasiswa...Entahlah... sampai kapan saya akan terus seperti ini.
Terkadang saya frustrasi...”
”Saya
juga tidak tahu... ini sindikat atau tidak. Yang jelas, saya sudah
tidak punya teman, tidak punya komunitas, malu untuk bergaul dengan
sesama Muslimah. Pikiran saya yang sudah terjerat. Untuk membuang
jerat-jerat pikiran ini tidak mudah. Saya sadar ini salah, tetapi saya
seperti tidak berdaya untuk melawannya. Belum lagi, instruksi dan
program-program yang rutin. Saya sering tak sadar menghujat-hujat Islam
sendiri, memaki-maki umat Islam sendiri. Semua itu berjalan begitu saja
tanpa bisa saya hindari. Saya sudah terjerat; terjerat oleh pikiran saya
sendiri, terjerat oleh lidah saya sendiri! Saya sadar, saya geram,
karena tidak berdaya untuk melepaskan diri dari semua keterjeratan
ini... Saya tidak mampu... Padahal, di depan laki-laki saya selalu
mencoba tampil perkasa, saya tidak mau dipandang rendah. Tapi,
kenyataannya, saya tidak berdaya melawan pikiran saya sendiri...”.
Demikianlah
sebagian pengakuan dan pertobatan Siti, seorang aktivis gender, kepada
Rahmat. Siti akhirnya diracun oleh sindikat yang menjeratnya, karena
dianggap berkhianat. Beruntung, dia masih bisa diselamatkan. Di akhir
cerita, Siti membuktikan kesungguhannya untuk bertobat. Ia bahkan
mengorbankan rasa cintanya pada Rahmat dan memilih berjuang membesarkan
pesantren ayahnya. Ia lebih mengedepankan aktivitas dakwah dan
pendidikan Islam.
Kisah Siti, Kemi, dan Rahmat bisa dibaca lebih jauh dalam Novel Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat. Selamat membaca!
Sumber: http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=535:pengakuan-aktivis-gender&catid=32:gender&Itemid=100

Tidak ada komentar:
Posting Komentar